Ada cara-cara tertentu dalam bermusik yang tidak sekadar mengandalkan bunyi. Korekayu memilih jalan yang lebih sunyi namun dalam: menjadikan musik sebagai medium untuk mengingat, menafsir, dan merasakan kembali sejarah. Melalui perilisan live album sinematik Korekayu Een Verhaal in de Tijd, unit pop asal Yogyakarta ini mengajak pendengarnya masuk ke ruang waktu yang tidak sepenuhnya nyaman, namun penting untuk disimak.
Direkam langsung dari panggung ARTJOG pada 8 Agustus 2025, Een Verhaal in de Tijd merupakan dokumentasi pertunjukan Korekayu saat membawakan interpretasi ulang album Verhaal. Namun alih-alih sekadar mencatat sebuah konser, rilisan ini disusun sebagai pengalaman naratif yang utuh—mengaburkan batas antara pertunjukan musik, teater, dan arsip sejarah.
Sejak awal, Korekayu memang dikenal dengan pendekatan storytelling yang kuat. Dalam proyek ini, mereka merespons periode peralihan penjajahan Belanda ke Jepang di Indonesia, khususnya atmosfer militer Jepang pada 1942–1945. Narasi tersebut tidak disampaikan secara verbal atau historis kaku, melainkan dihadirkan lewat gestur visual dan musikal. Kostum gakuran dan seifuku yang dikenakan para personel bukan sekadar properti panggung, melainkan simbol yang memperkuat suasana dan konteks zaman yang ingin mereka bangun.
Secara musikal, penampilan ini menjadi bentuk paling ekspansif dari karya Korekayu sejauh ini. Aransemen lagu-lagu Verhaal diperluas dengan kehadiran brass section, backing vocal, seruling, ketipung, hingga gitar akustik. Elemen-elemen tersebut menciptakan soundscape yang lebih megah dan dramatik, sekaligus memberi ruang bagi emosi dan narasi untuk berkembang. Setiap lagu disusun ulang agar selaras dengan konsep historis yang diangkat, menjadikan live album ini terasa lebih seperti perjalanan cerita ketimbang kumpulan lagu.
Salah satu momen paling emosional hadir ketika Indra Prasta dan Iwan Tanda dari The Rain naik ke atas panggung untuk membawakan “Terserah Maumu”. Versi live ini terasa jauh dari bentuk aslinya—lebih raw, lebih luas, dan menghentak secara emosional. Di titik ini, musik tidak hanya terdengar, tetapi seolah menekan ingatan dan perasaan pendengarnya secara bersamaan.
Korekayu Een Verhaal in de Tijd, menawarkan pendekatan artistik yang jarang ditemui di skena pop Indonesia: menggabungkan teater, sejarah, dan musik dari perspektif generasi muda. Rilisan ini tidak hanya mengajak pendengar untuk menikmati bunyi, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang masa lalu dan bagaimana ia terus hidup dalam interpretasi hari ini.
Live album dan video performance Een Verhaal in de Tijd dijadwalkan rilis pada 1 Januari 2026 melalui YouTube dan seluruh platform streaming digital.
